5 Rahasia Sukses Pengembangan Produk Start-Up dengan Product Discovery

Bisnis rintisan atau yang lebih familiar disebut start-up adalah jenis usaha yang sedang booming sepuluh tahun terakhir. Banyak billionaire baru yang berasal dari anak-anak muda yang sukses mendobrak tatanan bisnis lama dengan ide-ide segarnya. Marketplace mendisrupsi toko offline, ride hailing mendisrupsi layanan taksi konvensional dan masih banyak lagi model bisnisnya.

Namun pernah terpikirkah kita bagaimana mereka menemukan produk atau layanan yang dapat diterima konsumen yang masih menggunakan produk lama. Apakah mereka tidak takut ide gila tersebut berakhir menjadi lelucon karena menghabiskan modal dalam menjalankannya pada market yang sama sekali baru? Bagaimana mereka bisa menyesuaikan adaptasi produk luar untuk market Indonesia.

Jawabannya adalah menggunakan metode product discovery. Dimana metode ini mensyaratkan pengembangan produk baru yang harus melibatkan konsumen diseluruh tahap pengambilan keputusannya. Karena perusahaan harus memastikan bahwa produk yang mereka buat dapat benar-benar memecahkan masalah konsumennya.

Product discovery dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama adalah pengembangan produk baru. Observasi dan riset menjadi hal yang krusial guna memahami calon konsumen beserta masalah yang sedang dihadapi. Dalam prosesnya, riset akan mencari tahu apa saja variabel serta kriteria produk atau layanan yang benar-benar esensial bagi konsumen. Selanjutnya adalah identifikasi solusi yang dapat diawarkan lewat produk kita.

Kedua, dapat dilakukan apabila ingin memperbaharui produk yang sudah ada. Cara kedua dilakukan dengan melakukan riset pada inovasi atau penemuan teknologi terbaru yang dapat diterapkan pada produk kita sehingga dapat meningkatkan kepuasan konsumen. Berikut adalah langkah dalam melakukan product discovery.

  1. Meningkatkan Customer Empathy

Pemahaman akan kondisi dan permasalahan konsumen menjadi pondasi dalam melakukan product discovery. Sehingga kita sebagai pihak yang ingin melakukan riset, perlu memiliki empati yang tinggi terhadap kebutuhan dan permasalahan konsumen. Dengan memosisikan diri sebagai konsumen, kita akan memiliki kepekaan dalam memahami masalah serta mencari solusi bagi konsumen.

  1. Menentukan Target Konsumen yang Spesifik

Tahap penentuan target konsumen mengharuskan kita memiliki sensitivias kira-kira kalangan masyarakat manakah yang membutuhkan produk kita. Langkah ini membutuhkan riset pasar dan riset produk yang komperhensif demi menemukan product-market fit. Riset yang dilakukan biasanya tidak sebentar dan bersifat holistik sehingga dibutuhkan juga kerja sama antar tim yang berbeda agar memperoleh perspektif yang beragam.

  1. Mengidentifikasi Fitur yang Perlu Ditingkatkan

Setelah mendapat target konsumen, kita bisa menganalisis pain point pada produk kita. Kita perlu mencari tahu bagaimana konsumen menggunakan produk kita, lalu memperbaiki perubahan-perubahan kecil yang menyesuaikan kebutuhannya.

  1. Membuat Visual Mapping

Setelah memahami kebutuhan dan menemukan masalah-masalah yang dihadapi konsumen. Selanjutnya kita perlu membuat pemetaan ide serta melakukan validasi. Visual mapping akan mempermudah mencari gambaran umum tentang produk yang dikembangkan. Visual mapping juga dapat membantu memahami tujuan pengembangan produk beserta langkah-langkah dalam mewujudkannya.

  1. Lakukan Tes dan Kumpulkan Customer Feedback

Langkah selanjutnya memungkinkan kita melakukan pengujian untuk menilai perkembangan produk. Usability testing adalah pengujian untuk mencari tahu apakah desain produk Anda mudah digunakan calon konsumen atau tidak. Bisa juga A/B testing sebagai pengujian pada dua opsi untuk mencari tahu produk mana yang bekerja lebih baik pada konsumen.

Pada tahap ini sangat penting bagi kita unuk mengumpulkan feedback dari calon konsumen yang terlibat pengujian produk kita. Feedback dapat disampaikan melalui berbagai platform seperti media sosial, email, customer service serta peremuan tatap muka.

Artikel lain
×