{"id":696,"date":"2026-04-06T06:51:46","date_gmt":"2026-04-06T06:51:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/?p=696"},"modified":"2026-04-06T06:56:28","modified_gmt":"2026-04-06T06:56:28","slug":"kenapa-ada-brand-yang-tiba-tiba-hype-ini-cara-berpikir-di-baliknya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/kenapa-ada-brand-yang-tiba-tiba-hype-ini-cara-berpikir-di-baliknya\/","title":{"rendered":"Kenapa Ada Brand yang Tiba-Tiba Hype? Ini Cara Berpikir di Baliknya"},"content":{"rendered":"<h1 style=\"text-align: center;\"><strong>Kenapa Ada Brand yang Tiba-Tiba Hype? Ini Cara Berpikir di Baliknya<\/strong><\/h1>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-698 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn.png\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"281\" srcset=\"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn.png 1920w, https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn-300x169.png 300w, https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn-1024x576.png 1024w, https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn-400x225.png 400w, https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn-200x113.png 200w, https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn-150x84.png 150w, https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn-100x56.png 100w, https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn-75x42.png 75w, https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Artikel-BMM-Charlyn-50x28.png 50w\" sizes=\"auto, (max-width: 500px) 100vw, 500px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah tidak kamu membuka TikTok atau Instagram, lalu tiba-tiba melihat satu jenis minuman yang muncul di mana-mana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang memposting. Tapi lama-lama, hampir semua orang ikut mengunggah hal yang sama. Temanmu mulai membicarakannya, orang-orang antre di depan tokonya, dan tanpa sadar kamu jadi penasaran ingin mencoba juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena seperti ini sering terjadi pada brand yang sedang naik daun. Salah satu contohnya adalah <\/span><b>Sancha<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, brand ini berhasil menarik perhatian banyak anak muda. Bukan hanya karena produknya, tapi juga karena tampilannya yang estetik dan pengalaman yang ditawarkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau dipikir-pikir, minuman teh bukan sesuatu yang baru. <\/span><b>Lalu kenapa ada brand yang bisa tiba-tiba menjadi hype, sementara yang lain biasa saja?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawabannya bukan hanya soal produk, tetapi tentang cara sebuah brand membangun dirinya dari awal. Proses ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui beberapa langkah yang saling terhubung.<\/span><\/p>\n<h2><strong>5 Hal yang Dilakukan Brand Sampai Bisa Hype<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Brand yang terlihat sederhana sebenarnya melalui serangkaian proses yang saling terhubung. Dalam dunia Brand Communication Management (BMM), proses ini bisa dilihat melalui lima cara berpikir berikut.<\/span><\/p>\n<h3><b>1. Thinking \u2014 Memahami Konsumen Dulu<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika banyak brand minuman fokus pada rasa yang manis dan berat, <\/span><b>Sancha<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> justru melihat sesuatu yang berbeda. Banyak anak muda mulai mencari minuman yang lebih ringan, tidak terlalu berat, tapi tetap estetik dan \u201cenak dilihat\u201d untuk dibagikan di media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara membaca kebiasaan seperti ini juga dilakukan oleh <\/span><b>Kopi Tuku<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka melihat bahwa banyak orang Indonesia sebenarnya suka kopi susu, tapi tidak ingin yang terlalu ribet atau terlalu banyak pilihan. Yang dicari justru sesuatu yang simple, cepat, dan rasanya konsisten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, mereka tidak membuat banyak varian menu, tetapi fokus pada satu produk yang benar-benar \u201ckena\u201d, seperti kopi susu tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini terlihat bahwa brand tidak asal jual produk.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka benar-benar memahami bagaimana orang berpikir dan berperilaku sebelum mengambil langkah.<\/span><\/p>\n<h3><b>2. Communicating \u2014 Cara Brand Menunjukkan Diri<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah memahami konsumennya, brand mulai menunjukkan siapa mereka sebenarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, <\/span><b>Sancha<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan warna pink yang khas, desain cup yang estetik, dan tampilan outlet yang menarik. Bahkan tanpa membaca nama brand, orang sudah bisa mengenalinya hanya dari tampilannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh lain bisa dilihat dari <\/span><b>Fore Coffee<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka tidak hanya menjual kopi, tapi juga membentuk kebiasaan baru. Orang diajak untuk order lewat aplikasi, datang ke store hanya untuk mengambil pesanan, tanpa perlu antre lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah dengan desain visual yang clean dan modern, brand ini langsung terasa cepat, praktis, dan digital.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa banyak penjelasan, orang sudah bisa menangkap \u201ckepribadian\u201d brand tersebut.<\/span><\/p>\n<h3><b>3. Strategizing \u2014 Menentukan Kenapa Harus Dipilih<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun di tengah banyaknya brand yang bermunculan, terlihat menarik saja tidak cukup. Sebuah brand harus punya alasan kenapa orang harus memilih mereka.<\/span><\/p>\n<p><b>Sancha<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> mencoba memposisikan dirinya sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">artisan milk tea<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bukan sekadar minuman biasa. Mereka ingin dikenal sebagai brand yang memberikan pengalaman minum yang lebih spesial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, <\/span><b>Mixue<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> justru mengambil arah yang sangat berbeda. Mereka memilih untuk fokus pada harga yang sangat terjangkau, membuka banyak outlet di berbagai lokasi, dan menggunakan lagu khas yang terus diputar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasilnya, brand ini menjadi sangat mudah dikenali dan melekat di ingatan banyak orang sebagai minuman yang murah dan ada di mana-mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Strategi yang sederhana, tapi konsisten, justru membuat brand ini kuat.<\/span><\/p>\n<h3><b>4. Activating \u2014 Membuat Brand Hidup<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Brand tidak hanya harus terlihat, tapi juga harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika orang datang ke outlet <\/span><b>Sancha<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, mereka tidak hanya membeli minuman. Mereka melihat tempatnya, mengambil foto, lalu membagikannya ke media sosial. Tanpa sadar, mereka ikut menyebarkan brand tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang sama juga dilakukan oleh <\/span><b>Kopi Kenangan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka membuat menu dengan nama yang sangat relate seperti \u201cKopi Kenangan Mantan\u201d atau \u201cKopi Kenangan Masa Lalu\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama-nama ini membuat orang merasa dekat, bahkan sering kali membuat mereka tersenyum atau penasaran. Ditambah dengan promo dan campaign yang relate dengan kehidupan anak muda, brand ini jadi sering muncul dalam percakapan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini, brand tidak hanya dilihat, tapi benar-benar \u201chidup\u201d di sekitar kita.<\/span><\/p>\n<h3><b>5. Protecting \u2014 Menjaga Kepercayaan<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ketika sebuah brand sudah mulai dikenal luas, tantangan terbesar justru menjaga kepercayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspektasi konsumen akan semakin tinggi, dan kesalahan kecil bisa langsung menyebar dengan cepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya terjadi pada <\/span><b>Bakso Afung<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, yang sempat diterpa isu terkait bahan produknya. Isu tersebut membuat banyak konsumen mulai ragu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih diam, mereka memilih untuk merespon secara langsung. Bahkan melakukan aksi simbolik seperti memecahkan mangkok di depan publik sebagai bentuk komitmen mereka terhadap kepercayaan pelanggan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era media sosial, cara brand merespon masalah sering kali lebih penting daripada masalah itu sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jadi, Apa yang Dipelajari di Spesialisasi BMM UC Makassar?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau diperhatikan, semua proses tadi sebenarnya saling terhubung. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari memahami konsumen, menentukan cara brand tampil, merancang strategi, menciptakan pengalaman, hingga menjaga kepercayaan\u2014semuanya adalah bagian dari satu cara berpikir. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang dipelajari dalam <\/span><a href=\"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/spesialisasi\/brand-communication-management\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>Brand Communication Management (BMM) UC Makassar<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ketika kamu melihat sebuah brand tiba-tiba menjadi hyp. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">itu bukan kebetulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu tertarik dengan dunia kreatif, strategi, dan ingin tahu bagaimana sebuah brand bisa berkembang seperti itu,<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><b>BMM UC Makassar bisa jadi tempat kamu belajar semuanya.<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan siapa tahu, ke depannya\u2026<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><b>kamu yang ada di balik brand berikutnya yang jadi hype.<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa Ada Brand yang Tiba-Tiba Hype? Ini Cara Berpikir di Baliknya Pernah tidak kamu membuka TikTok atau Instagram, lalu tiba-tiba melihat satu jenis minuman yang muncul di mana-mana? Awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang memposting. Tapi lama-lama, hampir semua orang ikut mengunggah hal yang sama. Temanmu mulai membicarakannya, orang-orang antre di depan tokonya,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":698,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-696","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-events"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/696","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=696"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/696\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":702,"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/696\/revisions\/702"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/media\/698"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=696"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=696"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputramakassar.ac.id\/man\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=696"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}