Kenapa Ada Brand yang Tiba-Tiba Hype? Ini Cara Berpikir di Baliknya

Pernah tidak kamu membuka TikTok atau Instagram, lalu tiba-tiba melihat satu jenis minuman yang muncul di mana-mana?

Awalnya mungkin hanya satu atau dua orang yang memposting. Tapi lama-lama, hampir semua orang ikut mengunggah hal yang sama. Temanmu mulai membicarakannya, orang-orang antre di depan tokonya, dan tanpa sadar kamu jadi penasaran ingin mencoba juga.

Fenomena seperti ini sering terjadi pada brand yang sedang naik daun. Salah satu contohnya adalah Sancha. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, brand ini berhasil menarik perhatian banyak anak muda. Bukan hanya karena produknya, tapi juga karena tampilannya yang estetik dan pengalaman yang ditawarkan.

Tapi kalau dipikir-pikir, minuman teh bukan sesuatu yang baru. Lalu kenapa ada brand yang bisa tiba-tiba menjadi hype, sementara yang lain biasa saja?

Jawabannya bukan hanya soal produk, tetapi tentang cara sebuah brand membangun dirinya dari awal. Proses ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui beberapa langkah yang saling terhubung.

5 Hal yang Dilakukan Brand Sampai Bisa Hype

Brand yang terlihat sederhana sebenarnya melalui serangkaian proses yang saling terhubung. Dalam dunia Brand Communication Management (BMM), proses ini bisa dilihat melalui lima cara berpikir berikut.

1. Thinking — Memahami Konsumen Dulu

Ketika banyak brand minuman fokus pada rasa yang manis dan berat, Sancha justru melihat sesuatu yang berbeda. Banyak anak muda mulai mencari minuman yang lebih ringan, tidak terlalu berat, tapi tetap estetik dan “enak dilihat” untuk dibagikan di media sosial.

Cara membaca kebiasaan seperti ini juga dilakukan oleh Kopi Tuku. Mereka melihat bahwa banyak orang Indonesia sebenarnya suka kopi susu, tapi tidak ingin yang terlalu ribet atau terlalu banyak pilihan. Yang dicari justru sesuatu yang simple, cepat, dan rasanya konsisten.

Karena itu, mereka tidak membuat banyak varian menu, tetapi fokus pada satu produk yang benar-benar “kena”, seperti kopi susu tetangga.

Di sini terlihat bahwa brand tidak asal jual produk.
Mereka benar-benar memahami bagaimana orang berpikir dan berperilaku sebelum mengambil langkah.

2. Communicating — Cara Brand Menunjukkan Diri

Setelah memahami konsumennya, brand mulai menunjukkan siapa mereka sebenarnya.

Misalnya, Sancha dengan warna pink yang khas, desain cup yang estetik, dan tampilan outlet yang menarik. Bahkan tanpa membaca nama brand, orang sudah bisa mengenalinya hanya dari tampilannya.

Contoh lain bisa dilihat dari Fore Coffee. Mereka tidak hanya menjual kopi, tapi juga membentuk kebiasaan baru. Orang diajak untuk order lewat aplikasi, datang ke store hanya untuk mengambil pesanan, tanpa perlu antre lama.

Ditambah dengan desain visual yang clean dan modern, brand ini langsung terasa cepat, praktis, dan digital.

Tanpa banyak penjelasan, orang sudah bisa menangkap “kepribadian” brand tersebut.

3. Strategizing — Menentukan Kenapa Harus Dipilih

Namun di tengah banyaknya brand yang bermunculan, terlihat menarik saja tidak cukup. Sebuah brand harus punya alasan kenapa orang harus memilih mereka.

Sancha mencoba memposisikan dirinya sebagai artisan milk tea, bukan sekadar minuman biasa. Mereka ingin dikenal sebagai brand yang memberikan pengalaman minum yang lebih spesial.

Sementara itu, Mixue justru mengambil arah yang sangat berbeda. Mereka memilih untuk fokus pada harga yang sangat terjangkau, membuka banyak outlet di berbagai lokasi, dan menggunakan lagu khas yang terus diputar.

Hasilnya, brand ini menjadi sangat mudah dikenali dan melekat di ingatan banyak orang sebagai minuman yang murah dan ada di mana-mana.

Strategi yang sederhana, tapi konsisten, justru membuat brand ini kuat.

4. Activating — Membuat Brand Hidup

Brand tidak hanya harus terlihat, tapi juga harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika orang datang ke outlet Sancha, mereka tidak hanya membeli minuman. Mereka melihat tempatnya, mengambil foto, lalu membagikannya ke media sosial. Tanpa sadar, mereka ikut menyebarkan brand tersebut.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Kopi Kenangan. Mereka membuat menu dengan nama yang sangat relate seperti “Kopi Kenangan Mantan” atau “Kopi Kenangan Masa Lalu”.

Nama-nama ini membuat orang merasa dekat, bahkan sering kali membuat mereka tersenyum atau penasaran. Ditambah dengan promo dan campaign yang relate dengan kehidupan anak muda, brand ini jadi sering muncul dalam percakapan sehari-hari.

Di sini, brand tidak hanya dilihat, tapi benar-benar “hidup” di sekitar kita.

5. Protecting — Menjaga Kepercayaan

Namun ketika sebuah brand sudah mulai dikenal luas, tantangan terbesar justru menjaga kepercayaan.

Ekspektasi konsumen akan semakin tinggi, dan kesalahan kecil bisa langsung menyebar dengan cepat.

Contohnya terjadi pada Bakso Afung, yang sempat diterpa isu terkait bahan produknya. Isu tersebut membuat banyak konsumen mulai ragu.

Alih-alih diam, mereka memilih untuk merespon secara langsung. Bahkan melakukan aksi simbolik seperti memecahkan mangkok di depan publik sebagai bentuk komitmen mereka terhadap kepercayaan pelanggan.

Di era media sosial, cara brand merespon masalah sering kali lebih penting daripada masalah itu sendiri.

Jadi, Apa yang Dipelajari di Spesialisasi BMM UC Makassar?

Kalau diperhatikan, semua proses tadi sebenarnya saling terhubung. Mulai dari memahami konsumen, menentukan cara brand tampil, merancang strategi, menciptakan pengalaman, hingga menjaga kepercayaan—semuanya adalah bagian dari satu cara berpikir. Inilah yang dipelajari dalam Brand Communication Management (BMM) UC Makassar. Jadi ketika kamu melihat sebuah brand tiba-tiba menjadi hyp. itu bukan kebetulan.

Kalau kamu tertarik dengan dunia kreatif, strategi, dan ingin tahu bagaimana sebuah brand bisa berkembang seperti itu,
BMM UC Makassar bisa jadi tempat kamu belajar semuanya.

Dan siapa tahu, ke depannya…
kamu yang ada di balik brand berikutnya yang jadi hype.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed