5 Cara Riset Konsumen dalam Bisnis Kuliner

Bisnis kuliner saat ini telah kembali menunjukkan geliat positif pasca pandemi dua tahun terakhir. Kemunculan brand-brand kuliner yang dalam tempo singkat menjadi viral dan membuat konsumen rela mengantri panjang di outlet mereka menjadi indikator kuat kembalinya perilaku konsumen dalam menikmati kuliner lokal.

Diantara beberapa brand yang sedang naik daun belakangan ini kembali mengusung menu pedas atau aneka sambal dengan didukung tempat yang luas unuk dine in. Kombinasi menu pedas berbagai level yang diaplikasikan pada mie ataupun sambal bakar dengan aneka lauk yang disajikan dalam hotplate merupakan strategi yang dipilih bukan hanya berdasarkan insting atau asumsi belaka akan tetapi telah melalui tahap riset konsmen yang mendalam.

Keputusan membuat area makan yang luas dan terbuka untuk dine in juga pasti telah didasarkan pada hasil riset perilaku konsumen pasca pandemi yang ingin kembali makan diluar. Tempat makan yang luas dan terbuka akan mengurangi resiko penularan Covid-19 serta mengembalikan experience dan ineraksi sosial yang telah lama dibatasi selama pandemi. Sehingga riset konsumen memegang peranan penting bagi keberhasilan bisnis kuliner ditengah persaingan yang semakin ketat. Berikut adalah 5 cara yang dapat dilakukan untuk melakukan riset konsumen dalam bisnis kuliner.

  1. Product Sampling

Metode lama yang selalu relevan untuk digunakan karena experience, produk serta pelayanan yang diberikan akan langsung dapat dievaluasi berdasarkan respon audiens yang terlibat dalam riset. Service set up atau pengkondisian pelayanan yang seideal mungkin selayaknya pelayanan aktual akan memberikan margin of error yang semakin rendah.

  1. Focus Group Discussion

Riset metode ini dilakukan dengan mengumpulkan konsumen kuliner dengan jumlah yang tidak banyak asal cukup mewakili karakerisik target market yang akan disasar. Perbedaan mendasar dari metode ini dengan sebelumnya adalah kedalaman informasi dan preferensi yang ingin digali oleh researcher agar memperoleh insight yang benar-benar relevan. FGD bisa dilakukan sebanyak 2 sampai 3 kali agar bisa dilakukan validasi dan mendapat masukan yang benar-benar berguna bagi kemajuan bisnis.

  1. Blind Test

Riset dengan cara ini lebih spesifik ingin menguji kualitas produk kita dengan pesaing secara langsung apabila berada dijenis menu yang sama. Pengkondisian blind test harus di set up semirip mungkin produk kita dengan pesaing, baik dari segi jumlah/porsi dan cutting part serta menggunakan packaging polos yang sama agar tidak mencirikan apapun. Sehingga pengujian cara ini lebih efektif untuk membandingkan kualitas produk kita dengan pesaing secara head to head serta mengeahui perbaikan yang diperlukan agar dapat bersaing dengan kompetitor.

  1. Loyal Customers Review

Metode ini lebih cocok dilakukan bagi bisnis kuliner yang ingin mengembangkan produk baru. Dimana populasi riset ini adalah pelanggan setia yang didasarkan database penjualan sebelumnya. Melibatkan pelanggan setia untuk memberikan review dinilai penting karena merekalah yang menjadi milestone pengembangan bisnis kedepannya. Harapannya mereka mampu mencerminkan persepsi dan preferensi konsumen lain yang membeli produk kita. Keterlibatan mereka juga penting agar mereka merasa dihargai dan didengar aspirasinya sehingga terbangun engagement dan loyalitas jangka panjang.

  1. Honest Review from Influencer

Metode terakhir adalah hasil dari adaptasi kemajuan media sosial yang kita alami dewasa ini. Influencer dalam hal ini kita posisikan sebagai ahli karena pengalaman dan wawasan mereka yang telah me-review banyak bisnis serupa. Keterlibatan influencer juga penting untuk diakomdasi karena nantinya merekalah yang bisa ktia libakan untuk melakukan liputan dan review bisnis kita. Apabila dari awal sudah mengakomodasi keinginan mereka, kita bisa mendapat review posiif dan akhirnya dapat menarik followers mereka untuk mencoba.

Artikel lain
×